Selasa, 20 Maret 2012

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Alat Keselamatan dan Kesehatan Kerja Secara Umum
Departemen Tenaga Kerja mensyaratkan kepada seluruh perusahaan/ industri agar setiap pekerja yang
bekerja dapat bekerja dengan aman dan selamat, sesuai dengan norma‐norma keselamatan kerja. Semua hal
yang menyangkut masalah keselamatan kerja telah diatur dengan Undang‐undang Keselamatan Kerja, baik
mengenai tempat kerja, lingkungan kerja dan peralatan yang digunakan untuk bekerja, sedangkan langkah kerja
atau prosedur kerja telah ditetapkan oleh perusahaan atau industri yang bersangkutan. Tujuan yang sama dalam
membuat aturan keselamatan yaitu menciptakan situasi kerja yang aman dan selamat.
Perencanaan proses produksi yang baik dan penataan peralatan (layout) tempat bekerja terus
dikembangkan dengan tujuan untuk menciptakan situasi kerja yang aman bagi para pekerja dan peralatan kerja
itu sendiri. Perbaikan terhadap perencanaan mesin terus dikembangkan seperti, misalnya terhadap kebisingan
mesin akibat gesekan antara komponen mesin atau karena hubungan roda‐roda gigi penggerak. Suara bising pada
mesin dapat mengakibatkan rusaknya pendengaran pekerja.
Alat‐alat keselamatan kerja mutlak diperlukan bagi para pekerja guna menjamin agar pekerja dapat bekerja
dengan aman. Alat keselamatan kerja tersebut harus mempunyai persyaratan‐persyaratan tertentu, yaitu:

• Alat‐alat keselamatan kerja tersebut sesuai dengan jenis pekerjaan dan jenis alat/mesin yang dioperasikan,
sehingga efektifitas pemakaian alat keselamatan kerja benar‐benar terpenuhi.

• Alat‐alat keselamatan kerja tersebut harus dipakai selama pekerja berada di dalam bengkel, baik mereka
sedang bekerja maupun pada saat tidak bekerja dan alat keselamatan kerja tersebutharus selalu dirawat
dengan baik. Sesudah peralatan keselamatan kerja tersebut diperoleh, biasanya akan timbul masalah yaitu
kurang sesuainya ukuran alat keselamatan kerja tersebut dengan orang yang akan memakainya.

• Tingkat perlindungan alat keselamatan kerja itu sendiri bagi para pekerja yang memakainya, artinya dengan
menggunakan alat keselamatan kerja tersebut pekerja akan merasa aman dalam bekerja

• Alat keselamatan kerja tersebut hendaknya dapat dirasa nyaman dipakai oleh para pekerja, sehingga
menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi pekerja pada waktu bekerja.
Masalah lain adalah dalam pemakaian alat keselamatan kerja, masih banyak para pekerja memakai alat
keselamatan kerja nampak seperti terpaksa dan hanya memakainya sewaktu ada pemeriksaan serta apabila
diperlukan saja. Jadi pemakaian alat‐alat keselamatan kerja belum merupakan sikap kerja yang biasa.
Dengan kata lain pemakaian alat‐alat keselamatan kerja masih bersifat terpaksa, bukan merupakan
kebutuhan. Untuk itu diperlukan beberapa tindakan agar para pekerja mau memakai alat keselamatan kerja
seperti:

• Diharuskan setiap pekerja memakai alat‐alat keselamatan kerja, baik pada waktu sedang bekerja, apabila
mereka berada di dalam bengkel kerja. Artinya para pekerja harus menggunakan alat‐alat keselamatan kerja
selama ia berada di dalam bengkel kerja.

• Disediakan alat‐alat keselamatan kerja dengan berbagai ukuran, sehingga para pekerja dapat memilih alat
keselamatan kerja yang sesuai dengan ukuran badan dan anggota badannya. Dengan demikian para pekerja
akan merasa nyaman memakainya.

• Memberlakukan sistem sangsi bagi pekerja yang tidak menggunakan alat‐alat keselamatan kerja pada saat
bekerja atau ia berada di dalam bengkel kerja. Perlu diingat bahwa sangsi tersebut harus bersifat mendidik,
sehingga dapat meningkatkan sikap kerja yang aman.

Peralatan‐peralatan keselamatan kerja meliputi:
a. Peralatan pelindung Kepala
Walaupun setiap pekerja diharuskan memakai pelindung kepala (helmet), tetapi kadang‐kadang mereka
melalaikannya. Pemakaian pelindung kepala sangat diperlukan bagi para pekerja konstruksi, pekerja galangan
kapal, pekerja penebang pohon, pertambangan dan industri.
Helm diklasifikasikan menjadi dua yaitu: helm yang mempunyai bagian pinggir seluruh lingkaran dan yang
kedua adalah helmet dengan pinggir hanya pada bagian depannya. Dari kedua klasifikasi tersebut masih dibagi
dalam empat kelas yaitu:

• Kelas A, yaitu helm untuk keperluan umum. Helmet ini hanya mempunyai tahanan kelistrikan yang rendah.

• Kelas B, yaitu helm untuk jenis pekerjaan dengan resiko terkena tegangan listrik yang besar (mempunyai
tahanan terhadap tegangan yang tinggi), atau helmet ini tahan terhadap tegangan listrik yang tinggi.

• Kelas C adalah metallic helm, dipakai untuk pekerja yang bekerja dengan kondisi kerja yang panas, seperti
pada pengecoran logam atau pada dapur‐dapur pembakaran.

• Kelas D adalah helm dengan daya tahan yang kecil terhadap api, sehingga harus dihindari dari percikan api.

Alat pelindung rambut berfungsi agar rambut bisa ditutupi secara sempurna, sehingga kecelakaan kerja
akibat terbelitnya rambut pada bagian‐bagian mesin yang berputar dapat dihindari.

Alat pelindung rambut atau penutup rambut yang banyak dipakai adalah sorban, jala rambut dan penutup
kepala yang dapat menutup secara sempurna. Pemakaian jaring rambut kurang aman apabila pekerja tersebut
bekerja pada daerah di mana percikan api sering terjadi. Syarat penutup kepala adalah:

a. Tahan terhadap bahan kimia
b. Tahan panas
c. Nyaman dipakai
d. Tahan terhadap pukulan
e. Ringan dan kuat
f. Berwarna menarik
g. Mempunyai ventilasi apabila tidak untuk perlindungan terhadap debu.

b. Peralatan pelindung kebisingan
Kegunaan peralatan pelindung kebisingan adalah untuk melindungi telinga dari kebisingan yang
berlebihan, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada sistem pendengaran pekerja. Standar kebisingan yang
diizinkan adalah 90 desibel menurut undang‐undang keselamatan kerja kesehatan kerja, oleh sebab itu kebisingan
yang dihasilkan oleh suatu proses produksi di dalam industri harus selalu diukur dan diusahakan kurang dari
standar yang telah ditentukan agar tidak menyebabkan kerusakan pada pendengar para pekerja..

Alat perlindungan kebisingan ada dua jenis, yaitu yang dimasukkan ke dalam lubang telinga dan yang
satunya adalah jenis yang menutup seluruh telinga

• Jenis alat yang dimasukkan ke lubang telinga Jenis peralatan ini pemasangan dimasukkan ke dalam lubang
telinga dan model serta ukurannya bermacam‐macam. Bahan yang digunakan untuk membuka peralatan ini
adalah plastic yang lunak/lembut, karet yang lembut, lilin dan kain. Karet dan plastik yang lembut adalah jenis
bahan yang sangat terkenal untuk pembuatan alat ini, karena ia mudah dibersihkan, murah harganya dan
memberikan bentuk serta warna sangat bagus atau menarik. Kain adalah bahan yang jelek untuk
perlindungan terhadap kebisingan, sebab ia sangat rendah daya hambatnya terhadap kebisingan. Penutup
telinga dari bahan karet dan plastik yang lembut sangat efektif dalam pemakaiannya, sebab dalam
pemasangannya sangat mudah yaitu hanya menekankan ke lubang telinga dan ia akan menutup lubang
telinga secara sempurna, tanpa ada kebocoran.

• Jenis pelindung kebisingan yang menutup telinga
Bentuk peralatan ini dapat menutup seluruh telinga, sehingga akan diperoleh keseimbangan pendengaran
antara telinga kanan dan telinga kiri. Untuk menghasilkan perlindungan kebisingan yang efektif, maka bentuk,
ukuran, bahan penyekat, jenis pegas dari penutup telinga ini harus benarbenar dipilih secara baik, sehingga si
pemakai merasa nyaman.

c. Pelindung mata
Luka pada mata dapat diakibatkan adanya bahan atau beram yang masuk ke mata akibat pekerjaan
pemotongan bahan, percikan bunga api sewaktu pengelasan, debu‐debu, radiasi dari sinar ultraviolet dan lainnya.
Kecelakaan pada mata dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, di mana tidak dapat berfungsi lagi atau dengan
kata lain orang menjadi buta.
Dalam suatu survei diperoleh data bahwa kecelakaan kerja atau luka pada diakibatkan oleh:

• Obyek atau bahan yang mengenai mata (pecahan logam, beram‐beram, pecahan batu gerinda, paku, percikan
bunga api dan lain sebagainya)
• Debu dari penggerindaan
• Karat
• Sinar atau cahaya
• Gas beracun atau asap beracun.
Jenis kaca mata yang banyak digunakan dalam industri adalah:
• Kaca mata untuk pekerjaan dengan bahan kimia
• Kaca mata las
Kaca mata las terdiri dari dua jenis dan mempunyai bermacam‐macam bentuk. Jenis yang umum digunakan
untuk adalah kaca mata las untuk pengelasan listrik dan kaca mata yang digunakan untuk pengelasan asetilen.
Bentuk kaca mata las asetilen dan kaca mata untuk las listrik adalah bisa sama, tetapi lensa yang dipasang
adalah tidak sama. Hal tersebut dikarenakan sinar yang dihasilkan oleh api las listrik lebih tajam dibandingkan
sinar yang dihasilkan oleh api las asetilen. Perbedaannya hanya pada warna lensanya. Selain bentuk kaca
mata pada pengelasan listrik disediakan khusus peralatan untuk melindungi muka dan mata dari sinar api las
listrik yang dikenal dengan masker las.

d. Pelindung muka
Banyak jenis peralatan dibuat untuk melindungi muka para pekerja. Biasanya alat tersebut juga berfungsi
sebagai pelindung kepala dan leher sekaligus. Alat tersebut berfungsi melindungi kepala dari benturan,
melindungi muka dari cairan bahan kimia, logam panas dan percikan bunga api dan luka lainnya yang akan terjadi
pada kepala, leher dan muka pekerja. Bahan untuk melindungi muka biasanya dari plastik transparan, sehingga
masih dapat tetap melihat kegiatan yang dilakukan.
Jenis alat pelindung kepala dan muka seperti babbiting helm (helm dari bahan babbit), yang dapat
melindungi kepala dan muka dari percikan logam panas dan radiasi panas. Bentuk helmet dilengkapi dengan
jendela dan penutup dagu serta penutup rambut.
Peralatan lain yang digunakan untuk melindungi muka adalah masker las. Jenis peralatan ini digunakan
untuk melindungi mata dan muka dari percikan api las dan percikan logam cair hasil pengelasan. Pada jendela
kacanya dilengkapi dengan lensa tambahan untuk menjaga agar lensa yang gelap tidak akan rusak kena
panas/percikan api las dan percikan logam cair hasil pengelasan.
e. Pelindung Tangan
Jari‐jari tangan merupakan bagian tubuh yang sering kali mengalami luka akibat kerja, seperti: terpotong
oleh pisau, luka terbakar karena memegang benda panas, tergores oleh permukaan benda kerja yang tidak halus
dan masih banyak lagi bentuk luka lainnya. Untuk itu tangan dan jari‐jari sangat perlu dilindungi dengan baik,
karena semua pekerjaan seluruhnya dikerjakan dengan menggunakan tangan.
Alat pelindung tangan yang biasa digunakan adalah:
• Sarung tangan dari bahan asbes, digunakan untuk melindungi tangan dari panas. Jenis sarung tangan ini
fleksibel sehingga sangat enak dipakainya.
• Sarung tangan dari bahan kulit, digunakan untuk melindungi tangan dari percikan api atau keadaan benda
kerja yang tidak terlalu panas, beram‐beram dan benda kerja yang kasar permukaannya. Biasanya sarung
tangan dari bahan kulit ini dipakai pada pekerjaan‐pekerjaan berat. Sarung tangan dari bahan kulit ini dipakai
untuk pengerjaan pengelasan.
• Sarung tangan dari bahan karet, digunakan oleh pekerja bagian kelistrikan
• Sarung tangan yang terbuat dari bahan campuran karet, neoprene dan vinyl, digunakan untuk pekerjaan
pengangkutan bahan‐bahan kimia. Sedangkan sarung tangan dari bahan neoprene dan vinyl digunakan untuk
pengangkutan bahan‐bahan minyak atau petroleum
• Metal mesh gloves, sarung tangan jenis ini digunakan oleh pekerja yang selalu bekerja menggunakan pisau
dan bendabenda tajam lainnya. Dengan pemakaian sarung tangan ini bahaya luka akibat pisau dan benda
tajam lainnya bisa dihindari.
• Sarung tangan dari bahan cotton digunakan untuk melindungi tangan dari debu dan kotoran.
Di samping sarung tangan ada bahan lain yang dapat melindungi kulit tangan dan kulit lengan dari luka
pedih, yaitu sejenis cream. Cream ini dioleskan pada tangan dan lengan agar kulit terhindar dari bahan‐bahan
yang dapat melukai kulit.
f. Pelindung kaki
Sepatu kerja atau pelindung kaki yang harus digunakan pada bengkel kerja mesin, harus memenuhi
persyaratan tertentu, yaitu: harus dapat melindungi kaki pekerja dari luka kejatuhan benda kerja, terkena beram,
benda panas/pijar, bahan‐bahan kimia yang berbahaya dan kecelakaan yang mungkin timbul dan menyebabkan
luka bagi pekerja.
Konstruksi sepatu kerja bengkel kerja mesin adalah pada bagian ujung sepatu dipasang atau dilapisi
dengan pelat baja, agar mampu menahan benda yang jatuh menimpa kaki. Dengan adanya penahan tersebut,
maka kaki tidak mengalami luka. Bagian alasnya harus cukup kuat dan tidak mudah tergelincir. Bahan yang umum
dipakai dalam pembuatan sepatu kerja adalah kulit yang di samak. Khusus untuk pekerja bidang kelistrikan, maka
bahan pembuat sepatu hendaknya dipilih bahan non konduktor.

g. Pelindung tubuh
Pelindung tubuh atau dikenal dengan nama apron digunakan untuk melindungi tubuh bagian depan yaitu
dari leher sampai kaki dari berbagai kemungkinan luka, seperti terkena radiasi panas, percikan bunga api dan
percikan beram dan lainnya. Bahan untuk membuat apron ini dari asbes dan kulit yang telah di samak. Apron yang
terbuat dari asbes biasanya diperkaya dengan kawat‐kawat halus, agar apron tersebut dapat menahan
benturanbenturan ringan dan alat‐alat yang tajam.

h. Baju kerja
Baju kerja atau pakaian kerja yang khusus dibuat untuk digunakan bekerja di dalam bengkel atau
laboratorium biasanya harus cukup kuat dan bentuknya harus sesuai dengan jenis pekerjaan yang dikerjakan. Baju
harus dapat melindungi pekerja dari luka akibat beram, serpihan benda kerja, goresan‐goresan dan panas.
Pakaian harus benar‐benar ter‐ikat atau pas dengan pemakainya. Dalam bekerja, baju terkancing secara
sempurna, sehingga tidak ada bagian‐bagian anggota badan yang terbuka atau tidak
terlindungi.

Keselamatan Kerja Sebelum, Sewaktu dan Selesai Bekerja
a. Sebelum bekerja
Keselamatan kerja yang harus diperhatikan sebelum melaksakan pekerja meliputi :
1. Persiapan dan pemakaian pelengkapan keselamatan kerja untuk si pekerja yakni; pakaian kerja sepatu kerja,
helm, sarung tangan dan lain‐lain.
2. Pemeriksaan alat‐alat dan perlengkapan yang digunakan seperti; pemeriksaan kepala palu, perlengkapan
pengaman pada mesin‐mesin dan lain‐lain
3. Pemeriksaan terhadap bahan yang akan dipekerjakan seperti pemeriksaan sisi‐sisi pelat yang tajam.
4. Lingkungan tempat bekerja juga perlu diperhatikan, sebab lingkungan kerja yang nyaman dapat memberikan
motivasi terhadapsi pekerja untuk bekerja untuk bekerja untuk berja lebih kosenstrasi, sehingga kemungkinan
terjadinya kecelakaan kecil terjadi.
b. Sewaktu bekerja
Perhatikan keselamatan kerja sewaktu bekerja perlu mendapat perhatian yang serius, sebab biasanya
kecelakaan yang sering terjadi adalah sewaktu melaksakan pekerjaan. Usaha‐usaha yang diperlakukan untuk
menghindari atau mengurangi terjadinya kecelakaan dapat ditempuh dengan jalan sebagai berikut:
1. Menggunakan peralatan sesuai dengan fungsinya.
2. Jangan coba‐coba mengoperasikan mesin yang tidak mengetahui prinsip‐prinsip kerja yang benar tehadap
pekerjaan‐pekerjaan yang dilakukan.
3. Si pekerja harus menguasai pengetahuan keselamatan kerja.
4. Konsentrsi penuh dalam bekerja.

c. Selesai Bekerja
Setelah selesai bekerja keselamatan kerja juga perlu mendapat perhatian. Sebab akibat‐akibat yang sering
terjadi setelah selesai bekerja ini diantaranya terjadi kerusakan pada peralatan dan mesin‐mesin, juga
memungkinkan terjadinya kecelakaan terhadap si pekerja dan lingkungan tempat bekerja. Di samping itu
kelalaian yang sering terjadi adalah lupa mematikan panel kontrol listrik. Hal ini sangat membahayakan bagi
pekerja lainnya yang tidak mengetahui seperti tanpa sengaja menekan tombol mesin atau terpijaknya kabel arus listrik dan lainya.

Senin, 19 Maret 2012

Perkakas Tangan

JENIS DAN FUNGSI PERKAKAS TANGAN


A. JENIS PERKAKAS TANGAN

Perkakas tangan adalah alat untuk menunjang pekerjaan yang berhubungan dengan pemahatan, penandaan atau pengerokan, diantaranya:

1

Ragum


5

Obeng

2

Kikir


6

Kunci

3

Pahat


7

Sekrap tangan

4

Palu


8

Gergaji tangan

B. FUNGSI BERBAGAI MACAM PERKAKAS TANGAN

1. Ragum

Ragum adalah suatu alat penjepit untuk menjepit benda kerja yang akan dikikir, dipahat, digergaji, ditap, diseney, dan lain-lain.

Dengan memutar tangkai (handle) ragum, maka mulut ragum akan menjepit atau membuka benda kerja yang dikerjakan. Bibir dari mulut ragum harus dijaga baik-baik, jangan sampai rusak akibat terpahat, terkikir dan sebagainya.


Bila menggunakan ragum, letakkan alat perkakas yang kebetulan tidak dipergunakan di waktu bekerja, di atas meja kerja di sebelah kiri dan kanan ragum, sehingga tidak bertumpuk. Meletakkannya adalah sedemikian rupa, sehingga di sebelah kiri ragum ditempatkan alat-alat ukur dan di sebelah kanan ialah kikir, palu, pahat dan sebagainya.


2. Kikir

Kikir adalah alat perkakas tangan yang berguna untuk pengikisan benda kerja. Dilihat dari bentuk penampangnya, kikir mempunyai bermacam-macam bentuk dan kegunaannya, antara lain:

a. Kikir plat, untuk pengikiran bidang rata

b. Kikir pilar, untuk pengikiran bidang yang besar

c. Kikir segiempat, untuk pengikiran penampang persegi maupun lubang segiempat

d. Kikir segitiga, untuk lubang segitiga maupun runcing 600 atau lebih

e. Kikir pisau, untuk alur pasak dan ekor burung dengan sudut kurang dari 600

f. Kikir bulat, untuk lubang bulat, rongga cekung

g. Kikir setengah bulat, sisi ratanya untuk bidang rata, sisi bundar untuk rongga bundar/cekung

h. Kikir silang, untuk lekukan dan pembulatan


3. Pahat Tangan

Pahat tangan (jenis pahat dingin) digunakan untuk memahat atau menyayat benda kerja dalam keadaan dingin.

Menurut bentuk dan kegunaannya, pahat dingin dibagi menjadi bermacam-macam, yaitu:

a. Pahat plat/pipih, mempunyai kegunaan yang luas, misalnya untuk meratakan bidang, pengikisan bidang cembung, memotong plat, baut dan paku keling

b. Pahat alur/silang, digunakan untuk membuat alur-alur sempit, alur minyak

c. Pahat dam, untuk memotong bahan yang tebal, umumnya diawali dengan pengeboran secara berderet

d. Pahat setengah bulat/kuku, digunakan untuk membuat alur bulat dan juga untuk meralat permulaan pengeboran yang salah

e. Pahat dimon, digunakan untuk membersihkan sudut-sudut dalam, membuat alur V, meralat permukaan pemboran yang salah.


a) Pahat plat/pipih

b) Pahat alur/silang

c) Pahat dam

d) Pahat setengah bulat/kuku

e) Pahat dimon

4. Palu

Palu merupakan alat pemukul yang terbuat dari baja dengan kedua ujungnya dikeraskan. Pada bengkel kerja bangku, palu yang sering dipakai adalah:

a. Palu konde (ball peen)

b. Palu pen searah (straight peen)

c. Palu pen melintang (cross peen)


Selain itu ada pula palu yang terbuat dari plastic, kayu, atau tembaga. Ukuran kayu ditentukan oleh beratnya, misalnya 0,6 kg, 1 kg danlain-lain.

5. Obeng

Obeng secara umum digunakan untuk mengencangkan sesuatu sekrup terhadap suatu pasangannya, baik yang berupa kayu, plastic atau besi sekalipun.

Menurut penggunaannya obeng digunakan menurut nomernya, dari mulai 1, 2, 3 atau lebih tergantung dari kebutuhan.

Adapun jenis obeng yang umum kita ketahui diantaranya:

a. Obeng plat, untuk alur keras

b. Obeng kembang/philiph, untuk alur khusus.


6. Sekrap Tangan

Sekrap tangan bentuknya bermacam-macam sesuai dengan fungsi dan penggunaannya. Pengerjaan penyekrapan adalah menghilangkan noda-noda/tanda-tanda pada permukaan benda kerja untuk menghasilkan permukaan yang licin dan rata sehingga mencapai ukuran yang tepat.


Pelat sekrap mempunyai bentuk mata pemotong yang rata.


Pelat sekrap dengan mata potong bulat, digunakan untuk meratakan permukaan yang sebelumnya telah diperiksa dahulu pada meja rata.


Sekrap keruk, dipergunakan untuk menyekrap bagian tengah pada permukaan yang berukuran luas/lebar.


Sekrap setengah bundar, untuk menyekrap permukaan bagian dalam yang berbentuk lingkaran seperti bantalan poros.


Sekrap mata pemotong segitiga dipergunakan untuk menyekrap seluas permukaan yang berbentuk segitiga.


Sekrap mata pemotong bulat berbentuk hidung sapi, dipergunakan untuk menyekrap permukaan yang berbentuk lingkaran.

7. Gergaji Tangan

Daun gergaji tangan merupakan alat pemotong dan pembuat alur yang sederhana, bagian sisinya terdapat gigi-gigi pemotong yang dikeraskan. Bahan daun gergaji pada umumnya terbuat dari baja perkakas (tool steel), baja kecepatan tinggi (HSS high speed steel) dan baja tungsten (tungsten steel).

Sengkang/ tangkai gergaji tangan pada umumnya ada dua macam, yang tetap (untuk panjang daun gergaji 300 mm) dan yang dapat disetel (untuk panjang daun gergaji 250 – 300 mm).


Spesifikasi daun gergaji tangan meliputi jenis, bukaan gigi, jumlah gigi tiap panjang 1 inchi dan panjang daun gergaji ditentukan oleh jarak sumbu lubang. Contoh penulisan spesifikasi daun gergaji secara lengkap : Single cut-straight set-18T-12".





MACAM-MACAM PERKAKAS TANGAN


A. PENGGUNAAN RAGUM

1. Menentukan bidang dasar

Yang dimaksud dengan bidang dasar adalah bidang yang dijadikan acuan untuk pengambilan ukuran, kesikuan dan kesejajaran terhadap bidang lain. Suatu pekerjaan yang berbentuk balok, minimal harus mempunyai 3 bidang dasar, di mana bidang dasar tersebut diambil dari bidang yang berbatasan satu sama lain.

2. Mengatur ketinggian ragum

Ketinggian ragum harus diatur sesuai dengan kebutuhan pengerjaan. Untuk pengerjaan kasar, di mana tenaga pengerjaan diperlukan lebih besar, tinggi ragum diatur lebih rendah. Untuk pengerjaan presisi, ragum diatur lebih tinggi dan untuk pengerjaan yang umum, tinggi ragum diatur setinggi siku pada lengan.

3. Pencekaman benda kerja

Ragum adalah alat untuk menjepit benda kerja, untuk membuka rahang ragum dilakukan dengan cara memutar tangkai/tuas pemutar ke arah kiri (berlawanan arah jarum jam) sehingga batang berulir akan menarik landasan tidak tetap pada rahang tersebut, demikian pula sebaliknya untuk pekerjaan pengikatan benda kerja tangkai pemutar diputar ke arah kanan (searah jarum jam).

B. MENGGERGAJI

1. Daun gergaji tangan

Daun gergaji tangan merupakan alat pemotong dan pembuat alur yang sederhana, bagian sisinya terdapat gigi-gigi pemotong yang dikeraskan. Bahan daun gergaji pada umumnya terbuat dari baja perkakas (tool steel), baja kecepatan tinggi (HSS high speed steel) dan baja tungsten (tungsten steel).




2. Pemilihan Daun Gergaji Berdasarkan Spesifikasi

Spesifikasi daun gergaji tangan meliputi jenis, bukaan gigi, jumlah gigi tiap panjang 1 inchi dan panjang daun gergaji ditentukan oleh jarak sumbu lubang. Contoh penulisan spesifikasi daun gergaji secara lengkap : Single cut-straight set-18T-12".

Tabel 9. Jenis daun gergaji berikut fungsinya

No.

Jumlah gigi tiap inchi

Pemakaian

Jenis bahan

Tebal bahan minimum

1.

14

Lunak

5.5 mm

2.

18

Lunak sd sedang

4.2 mm

3.

24

Sedang sd keras

3,2 mm

4.

32

Keras

2,4 mm

3. Kecepatan langkah menggergaji

Kecepatan langkah menggergaji bisa dianggap sama dengan kecepatan langkah mengikir untuk ukuran panjang yang sama. Hal ini dapat dipahami karena jenis bahan daun gergaji sama dengan jenis bahan kikir, yaitu dari baja karbon. Jadi kecepatan langkah untuk menggergaji baja lunak adalah sekitar 40 langkah permenit.

4. Pemasangan daun gergaji

Dalam pemakaiannya, daun gergaji dipasang pada sengkang. Posisi pemasangan daun gergaji dapat disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan. Ketentuan pemasangan daun gergaji adalah sebagai berikut :

a. Gigi gergaji harus menghadap ke muka

b. Ketegangannya harus cukup, sehingga tidak terjadi lekukan pada waktu dipakai.



5. Pemegangan dan penekanan gergaji

Cara menggergaji hampir mirip dengan cara mengikir, yang berbeda adalah cara pemegangan. Untuk pemotongan yang berat, tekanan gergaji cukup besar, namun untuk pemotongan yang perlu lurus hasilnya, tekanan gergaji harus ringan.



6. Langkah penggergajian

a. Membuat alur

Tinggi mulut catok/ragum sama seperti pada waktu mengikir, bagian yang digergaji harus sedekat mungkin dengan mulut catok/ragum. Pada permulaan menggergaji, tahan sisi gergaji dengan ibu jari. Namun untuk pemotongan yang dianggap presisi, sebelum digergaji benda kerja harus ditandai terlebih dahulu dengan kikir segitiga sebagai jalan awal penggergajian.




b. Awal penggergajian

Sebagai awal penggergajian kedudukan gergaji, menyudut ± 30º, selanjutnya gergajilah bagian sisi terlebih dahulu yang lambat laun sudutnya makin kecil. .



c. Pemotongan benda kerja Potonglah benda kerja pada bagian yang dekat dengan mulut

d. Bahan lebih lebar


Bila bahan yang akan digergaji melebihi lebar sengkang gergaji, maka pemasangan daun gergaji harus diputar 90º.



7. Pemeliharaan gergaji

a. Tebal minimal bahan yang dipotong adalah 2 x pitch gigi (tiga gigi harus selalu berada pada daerah pemotongan). Hal ini diperlukan untuk menghindari gigi rontok.

b. Perhatikan pada waktu pemasangan, arah gigi harus menghadap ke depan

c. Pengencangan tidak membuat sengkang menjadi bengkok namun daun gergaji terikat dengan kuat dan aman

d. Setelah digunakan, sengkang gergaji dikendorkan dengan cara mengendorkan mur pengencang.

e. Untuk pemotongan yang dianggap presisi atau perlu lurus, penekanan gergaji diatur cukup ringan dan diawali dengan kikir segitiga.

C. MENGIKIR

1. Cara Memegang Tangkai

Cara memegang tangkai kikir yang betul adalah ibu jari ditempatkan di bagian atas tangkai kikir, sedangkan keempat jari tangan melingkar di bagian bawah tangkai kikir.


2. Cara memegang dan Menekan Kikir


3. Gerakan Kikir

Untuk mengikir permukaan bagian tebalnya, kedudukan kikir diserongkan 250 terhadap garis siku dari sisi memanjang benda kerja.


Untuk menghasilkan permukaan yang rata pada bidang persegi yang luas, lakukan cara pengikiran menyilang yang selanjutnya dibuat arah sejajar bidang pinggir. Tanda panah menunjukkan arah jalannya kikir.


Cara pertama untuk mengikir permukaan bulat, adalah gerakan kikir waktu didorong harus bersamaan digeser ke samping mengikuti bulatnya permukaan.


Cara kedua untuk mengikir permukaan yang bulat, ialah pada waktu kikir didorong ke muka bersamaan dengan menekan tangkai kikir ke bawah mengikuti bulatnya.


Untuk mengikir bulatnya bidang cekung gunakanlah kikir 1/2 bulat. Pada waktu kikir didorong ke muka bersamaan pula dengan menggerakkan kikir ke samping.


4. Penggunaan Macam-macam Bentuk Kikir

Bentuk kikir rata yang dipakai untuk mengikir setiap permukaan yang rata.


Bentuk kikir cekung yang dipakai untuk mengikir permukaan yang berbentuk cekung.


Kikir segitiga yang dipakai untuk mengikir permukaan berbentuk V (menyudut).


Kikir segiempat yang dipakai untuk mengikir bentuk lubang yang persegi empat.


Memperlihatkan bentuk kikir 1/2 bulat yang dipakai untuk mengikir bidang yang berbentuk lubang bulat (1/2 bulat).


D. MEMAHAT

Pada pekerjaan tukang logam, pengerjaan memotong yang dilakukan dengan mempergunakan pahat atau palu disebut memahat. Untuk memahat sebuah benda kerja yang dijepit pada ragung, hendaklah memegang pahat dan palu pada posisi badan mengikuti ketentuan-ketentuan yang diharuskan.


Setiap saat setelah dipukul, diungkitkan ke atas sehingga berbentuk sudut antara, sehingga medan potong akan bertambah panjang, karena tambahan tenaga diperlukan untuk memotong bahan.


Cara memahat sepotong pelat logam yang dijepit pada ragum dengan tebal tidak lebih dari 4 mm. pada pengerjaan seperti ini harus diperhatikan agar mulut ragum jangan sampai rusak.


Cara pengerjaan memahat pelat yang lebar dan berliku-liku dengan mempergunakan pahat pelat yang mempunyai mata pemotong bulat.


Cara memotong pelat logam tipis dengan pahat, hendaknya di bawah pelat yang akan dipotong diberi bantalan kayu atau logam lunak. Agar tidak mengalami kerusakan, sebaiknya buatlah terlebih dahulu lubang-lubang diluar garis batas pemotongan dan mata pemotong dari pahat dimiringkan terhadap permukaan bahan dengan mengikuti garis pemotongan.


Cara memahat bagian-bagian bidang yang luas dengan pahat pelat, dengan memiringkan pemahatan terlebih dahulu bulatlah alur-alur dengan pahat toreh/alur. Bilamana pemahatan hamper sampai pada bagian tepi, pemotongan janganlah diteruskan, hendaknya pemahatan dilanjutkan setelah kedudukan benda kerja diputar, hal ini agar mencegah patahnya bahian ujung dari benda kerja.


Cara membuat alur sejajar ada benda kerja dengan mempergunakan pahat alur.


Cara membuat alur spi pada logam bundar dengan mempergunakan pahat alur. Serta cara membuat alur sejajar dengan mempergunakan pahat potong.


Cara menggunakan pahat alur minyak pada bagian dalam bantalan poros.

Cara memotong bagian bahan yang akan terbuang di antara lubang-lubang bekas pengeboran dengan menggunakan pahat dam.


Cara membuat alur dan saluran minyak pada bantalan poros, metal dan bosh dengan mempergunakan pahat kuku.


Cara menghaluskan sudut bagian dalam dengan mempergunakan pahat diamond.


E. MENGETAP DAN MENYENAI

Tap dan sney adalah alat untuk membuat ulir. Tap adalah untuk membuat ulir dalam (mur), sedangkan Sney adalah untuk membuat ulir luar (baut).

1. Tap

Tiap satu set, tap terdiri dari 3 buah yaitu tap no.1 (Intermediate tap) mata potongnya tirus digunakan untuk pengetapan langkah awal, kemudian dilanjutkan dengan tap no. 2 (Tapper tap) untuk pembentukan ulir, sedangkan tap no. 3 (Botoming tap) dipergunakan untuk penyelesaian.



Sebelum melakukan pengetapan, benda kerja harus dibor terlebih dahulu dengan ukuran diameter bor tertentu. Penentuan diameter lubang bor untuk tap ditentukan dengan rumus:

D = D'– K

Dimana :

D = Diameter bor (mm/inchi)

D’ = Diameter nominal ulir (mm/inchi)

K = Kisar (gang)

Contoh :

a. Diameter lubang bor untuk mur M10 x 1,5 adalah 10 – 1,5 = 8,5 mm

b. Diameter lubang bor untuk mur W3/8”x 16 adalah 3/8” – 1/16” = 5/16 “

Untuk melakukan penguliran dengan menggunakan tap diperlukan alat bantu yaitu tangkai tap/pemutar tap. Ukuran dari tangkai tap sangat tergantung pada besar diameter tap yang akan digunakan. Untuk itu tap dibuat bervariasi dari ukuran kecil sampai besar.


Langkah kerja pembuatan ulir dengan tap adalah sebagai berikut :

§ Jepit benda kerja pada ragum secara benar dan kuat


§ Pasang tap konis pada tangkai tap

§ Tempatkan mata tap tegak lurus pada lubang (periksa dengan menggunakan siku-siku)


§ Tekan hingga masuk dalam lubang kemudian putar tangkai tap ke kanan (searah dengan putaran jarum jam). Pemutaran harus tegak lurus.


§ Pemutaran kira-kira sebesar 900, kemudian putar kembali ea rah kiri. Maksud pemutaran kembali adalah untuk memotong beram yang belum terpotong dan memberikan kesempatan beram-beram hasil pemotongan keluar dari lubang

§ Berikan pelumasan selama prose pengetapan, kecuali untuk pengetapan bahan dari besi


§ Lakukan pengetapan hingga selesai, kemudian ulangi langkah pengetapan dengan menggunakan tap antara. Setelah selesai ulangi langkah pengetapan dengan menggunakan tapa rata/finishing.

2. Sney

a. Snei pejal

Snei jenis ini berbentuk segi enam atau bulat. Untuk memudahkan dalam penguliran awal maka pada snei jenis ini tidak seluruh mata potongnya sama besar, tetapi sedikit tirus pada bagian mata pemotong awal. Dengan demikian benda kerja dapat masuk ke dalam snei sedikit mudah.


b. Snei Bercelah (Split die)

Snei jenis ini banyak digunakan untuk pembuatan ulir luar, karena ia memiliki kelebihan dari pada snei pejal. Kelebihan tersebut antara lain besar diameternya dapat diperbesar dan diperkecil sampai ukuran standarnya. Dengan demikian pada waktu penguliran pendahuluan diameternya diperbesar dan pada waktu finishing diameternya dikembalikan pada ukuran standarnya. Pengaturan tersebut dengan menggunakan baut penyetel.


Untuk membuat ulir dengan menggunakan snei dibutuhkan alat bantu yaitu pemegang snei. Pada pemegeng snei ini dilengkapi dengan baut-baut pengikat, agar snei tidak ikut berputar saat melakukan pemotongan/penguliran



Langkah kerja pembuatan ulir dengan snei adalah sebagai berikut:

§ Persiapkan benda kerja dan jepit pada ragum secara tegak lurus. Pasang snei pada pemegangnya dan kuncikan baut pengikatnya.


§ Tempatkan snei pada benda kerja dengan posisi datar, kemudian tekankan snei hingga benda kerja masuk pada snei. Lakukan penekanan sambil snei diputarkan searah dengan arah jarum jam.


§ Pemutaran atau pemakanan kira-kira 600, kemudian dikembalikan pada posisi semula. Pemutaran kembali dimaksudkan untuk memotong beram dan membersihkan ulir yang telah terbuat serta memberikan kesempatan beram keluar dari snei.

§ Lakukan pekerjaan langkah di atas secara terus menerus dan berikan minyak pelumas untuk mendingingkan snei dan untuk membantu mengeluarkan beram.

§ Untuk pembuatan ulir dengan snei bercelah, maka ulangi kembali penguliran dengan terlebih dahulu menyetel kembali lebar pembukaan snei. Demikian seterusnya sampai ukuran snei kembali pada ukuran standarnya.

§ Periksa hasil snei dengan menggunakan mal ulir, seterusnya bersihkan ulir dan snei.